Wisata di Bali - Sewa Mobil dan Tour murah di Bali HP/SMS: 081 916 533 222 (24 jam)

Tari Barong

Liburan dan mengagendakan tour di Bali disamping melihat pemandangan alam bali yang indah yang objek wisata nya tersebar hampir di seluruh pulau bali, mengunjungi tempat atraksi wisata, berbelanja, sekedar menyegarkan tenggorokan di pub/bar yang berserakan di Kuta atau pergi ke salah satu pantai eksotis di bali, belumlah terasa lengkap tanpa menyaksikan fragmen tarian di Bali.

Bali terkenal selain karena obyek wisatanya yang menawan juga karena penduduk dan budayanya, salah satunya tariannya. Di bali dikenal banyak jenis tarian, mungkin jumlahnya ratusan jenis dan terus bertambah dengan diciptakanya banyak jenis tarian baru dari waktu ke waktu, tetapi terdapat beberapa tarian yang paling populer untuk ‘konsumsi pariwisata’ di bali, misalnya tari barong. Barong adalah merupakan simbol kebaikan di Bali, yang bentuknya hampir mirip dengan singa. Jika mengendarai mobil dari Bandara Ngurah Rai butuh waktu 45 menit ke lokasi tari Barong di Batubulan.

Pada tarian Barong akan dipertunjukan, perkelahian antara kebaikan (barong) melawan kejahatan yang disimbolkan dengan Rangda (wajah yang sangat menyeramkan seperti raksasa). Tetapi tidak satupun dari mereka ada yang menang ataupun kalah. Semua itu merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat sehari-hari dimana baik dan buruk atau positif dan negatif selalu ada dalam kehidupan kita. Walaupun pada dasarnya setiap orang ingin mendapatkan hal-hal yang baik.Inti dari cerita tarian Barong diambil dari cerita pewayangan hindu terbesar dari India yaitu Mahabarata.














Dalam kisah ini diceritakan, salah satu dari Panca Pandawa (5 bersaudara) yaitu Sahadewa, akan dikorbankan oleh ibunya (Dewi Kunthi) untuk dipersembahkan kepada Dewi Durga (istri Dewa Siwa yang mempunyai wajah sangat menyeramkan). Tetapi saatnya untuk dikorbankan Dewi kunthi merasa sangat sedih dan tidak rela anaknya dipersembahkan dan dia ingin membatalkannya. Oleh karena kelicikan Dewi Durga akhirnya Dewi Kunthi seketika berubah fikiran dan menjadi sangat marah kepada Sahadewa.

Dan akhirnya Sahadewa diikat dibawah pohon, sambil menunggu waktu yang tepat untuk dipersembahkan. Pada saat itulah datang Dewa Wisnu memberikan anugrah kepada Sahadewa sehingga menjadikan dia tak terkalahkan. Dan tiba saatnya Dewi Durga turun untuk mebunuh Sahadewa, namun semua itu tidak mampu dilakukan. Bahkan akhirnya Dewi durga meminta Sahadewa untuk membunuh dirinya sendiri (Dewi Durga) agar dia bisa kembali ke surga.


Setelah dia terbunuh, datanglah Kalika (murid dewi Durga) dan mencoba untuk membunuh Sahadewa. Tetapi kalika kalah dan dia menjelma menjadi seekor babi hutan, karena diburu oleh masyarakat kemudian dia menjelma lagi menjadi Burung paksi (burung yang besar) dan selanjutnya mencoba mengalahkan Sahadewa. Lagi-lagi Kalika kalah dan terakhir dia menjelma menjadi Dewi Durga dengan wujud Rangda. Pada saat itu juga Sahadewa merubah dirinya (menjelma) menjadi Barong dan bertempur dengan Kalika. pada perkelahian ini tidak ada satupun yang kalah atau menang.

Tari ini diakhiri dengan tarian Keris, yang di perankan oleh beberapa orang laki-laki yang mencoba menusuk dirinya sendiri dengan keris tetepi tidak satupun dari mereka ada yang terluka, karena tubuh mereka telah dimasuki oleh kekuatan yang tidak bisa dilihat denagn kasat mata. Itulah secara singkat cerita dari tarian Barong, untuk lebih jelasnya silahkan sempatkan diri anda untuk menyaksikan tarian ini jika liburan ke Bali. Tarian ini dapat kita saksikan di desa Batubulan setiap hari pada pukul 09.30 Wita. selama satu jam.

Ada beberapa jenis tari Barong:
  • Barong ket , inilah jenis barong yang anda saksikan ketika menonton tarian barong di dance stage di beberapa daerah di bali di pagi hari, dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. tarian barong ini mempunyai variasi tarian yang lengkap, Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda).
  • Barong Bangkal, Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan tetamburan ( sederhana)
  • Barong Asu, Barong ini menyerupai anjing (asu) dan termasuk jenis Barong yang langka, hanya terdapat di beberapa desa di daerah tabanan dan badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelawang) pada hari-hari tertentu tanpa lakon dengan diiringi baleganjur.
  • Barong Brutuk, Tarian yang langka, menggambarkan makhluk-makhluk suci (para pengiring Ida Ratu Pancering Jagat) yang berstana di Pura Pancering Jagat,Trunyan. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan dan mengenakan busana yang terbuat dari daun pisang kering (keraras), memakai topeng dari batok kelapa, setiap orang membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura, diiringi dengan gamelan baleganjur. Barong ini terdapat di daerah trunyan – Kintamani
  • Barong Kadingkling, barong ini disebut juga Barong Blasblasan, pementasannya secara ngelawang, para penarinya hanya mengenakan topeng wayang wong dengan lakon cuplikan-cuplikan dari cerita Ramayana terutama adegan perang dan setiap tokoh dimainkan oleh satu orang penari yang masih anak-anak, dipentaskan pada hari-hari raya galungan dan kuningan diiringi dengan gambelan batel dan ada pula yang semacam babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong).Barong ini terdapat di daerah gianyar, bangli dan klungkung.
  • Barong Gagombrangan.
  • Barong Gajah, Barong ini menyerupai gajah, ditarikan oleh dua orang dan termasuk jenis barong yang langka sehingga dikeramatkan warga masyarakat pengemongnya. Dipentaskannya secara berkeliling desa (ngelawang )tanpa membawakan lakon dan diiringi dengan gamelan batel/ tetamburan. Barong ini terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli
  • Barong Macan, Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu drama tari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel
  • Barong Landung, Barong ini mula-mula dipakai untuk mengelabui barisan makhluk halus ganas yang menebar segala bencana penyakit dan marabahaya ke perkampungan penduduk Bali. Makhluk-makhluk halus tersebut dipercaya sebagai anak buah dan hulubalang Ratu Gede Mecaling yang menyeberangi lautan dari Nusa Penida. Oleh seorang pendeta sakti, kemudian penduduk disarankan untuk membuat patung yang mirip sang majikan, tinggi besar, hitam dan bertaring, dan diberi nama Jero Gede Mecaling, atau Ratu Mecaling. Karena itu masyarakat segera membuat tiruan Jero Gede Mecaling dan mengaraknya berkeliling kampung untuk membuat para makhluk halus itu takut dan menyingkir. Sirnalah segala macam penderitaan yang menghantui penduduk selama ini. Untuk penghormatan kepada tiruan Jero Gede, dibuatlah pasangannya yang biasa dipanggil Jero Luh. Kedua Barong Landung itu sering dihibur, diajak berjalan-jalan dan dibuatkan keramaian supaya bisa menari dan bersenang-senang.

Di kutip dari beberapa sumber



Hubungi : Yeh Malong Tour
Nyoman Pasek: yehmalong@telkom.net
Ph. 0361.8709363 HP/SMS : 081353 268688

Sewa mobil di bali........bersama Bali Tours Club

Filoshopi Leak

ASAL USUL DAN FILOSHOPI LEAK

Asal usul ilmu pengeleakan bisa dirujuk dalam sebuah ritual bathin yang disebut tapa. Tapa identik dengan api, kekuatan. Apakah kekuatan itu untuk membakar ego guna perolehan keinsyafan diri atau sebaliknya untuk mengumbar ego membakar subyek yang amat dibenci. Sekali lagi, tapa adalah api atau energi berhawa panas. Mereka yang menyimpan (mengekang) nafsu atau emosi negatifnya sedemikian rupa, apabila “diledakkan” dengan cara tertentu dapat menimbulkan api tapas , meski dalam alur yang menyimpang.

Bertolak dari prinsip ini, Calon Arang (Randa Dirah) tokoh sentral dalam jagat perleakan Bali diyakini telah melakukan praktek “tapa kebencian” dan menyalurkan hasil tapanya itu secara ghaib menjadi apa yang disebut LEAK. Kemampuan Calon Arang mengekang kebencian dan dendamnya (tapa) melahirkan api (energi panas). Inilah sebabnya Ilmu Leak versi Calon Arang dasar perwujudannya tampak sebagai api (ngendih). Dan tentu saja, api leak semacam itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap mereka yang juga memiliki api sejenis dari tipe dan kualitas yang lebih baik yakni api spiritual. Sebab itu, Mpu Bharadah, Mpu Bahula atau Raja Airlangga (Mpu Jatayu) yang mewakili kekuatan “api spiritual” tidak mempan oleh serangan kebencian yang terpancar dari api tapas Rondo Dirah. Ini pulalah makna keputusan Bhatari Durga yang mengijinkan Walu Nateng Dirah menebar kekuatan pedestian-nya hanya berlaku untuk masyarakat “pinggiran” saja, tidak dapat memasuki “ibukota kerajaan” yang dipimpin Airlangga. Pinggiran disini maksudnya adalah mereka yang berpandangan “keluar” (duniawi) melekat kepada kesenangan material; cinta akan tahta, keserakahan dan sejenisnya. Sedangkan ibukota kerajaan menyimbolkan mereka yang berpandangan “kedalam”, yakni para penekun jalan keinsyafan diri atau para penapak jalan spiritual. Bagaimanapun juga, api tapa spiritual jauh lebih cemerlang dari api tapa kebencian. Dewi Durga (Bhairavi) adalah manifestasi illahi yang merupakan sumber kedua jenis api tapa itu.
Semasih ada rasa tertindas yang melahirkan kebencian dan dendam, semasih ada nafsu birahi yang menggebu dan menuntut pemuasan dan semasih ada kemarahan terpendam yang menuntut pembalasan, jika semua itu cukup untuk melahirkan penghancuran, maka apa yang disebut LEAK pasti tetap eksis.
Calon Arang hanyalah subyek pencetus yang mewakili rasa ketidak puasan yang super lengkap semacam itu. Ia adalah Ratu Permaisuri yang sedang berkuasa tapi ia dibuang seperti sampah hingga terlunta ke tepi pengasingan. Ia harus puas sebagai mantan ratu menerima predikat janda (rondo) yang memalukan. Anak satu satunya,yang seharusnya menjadi ahli waris tahta kerajaan adalah seorang wanita bernama Ratna Mengali,pun ikut dicampakkan. Masyarakat kala itu menghukumnya dengan tidak menunjukkan rasa emphati kepada mereka. Disaat usia Ratna Mengali sudah cukup untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang layak, tak seorangpun pria mau mendekatinya apalagi melamarnya. Bisa dibayangkan seorang Ibu yang sedang sebatang kara yang menyayangi anak tunggalnya menerima perlakuan semacam itu,terlebih ia mantan permaisuri Raja Dirah. Siang malam ia memendam api kebenciannya kepada semua orang. Itulah tapa hebat yang dilakukan Rondo Dirah.

Maka ia sampai ke Durgaloka yakni Pura Dalem (inner power, konsentrasi api energi dalam tubuh) dan melupakan segalanya. Tujuannya hanya satu; balas dendam melampiaskan kebencian yang tak terbendung lagi. Kebencian yang mendalam dari Calon Arang ini juga layak disebut tapa dan karena itu, Dewi Durga yakni api kesadaran bathin yang dahsyat (cid-aghni, api tapas) berkenan memberikan anugerah-Nya. Karena api itu lahir dari motif kebencian, tidak ayal lagi kualitas api yang diterimanya agak rusak (ugig) dan akhirnya, terbukti memang merusak. Api semacam itu (ditambah sedikit “bumbu” dari ajaran tantrik) merupakan bahan baku (raw material) proses menebar petaka dalam kehidupan yang disebut desti, teluh dan teranjana. Teknik pengolahan api tapa “jalur kiri” seperti versi Rondo Dirah itu banyak dibahas dalam ajaran tantra wamamarga. Salah satu contohnya adalah pewisik yang diterima Calon Arang agar berhasil merubah wujud (malin rupa) seperti berikut :

Iki tingkahe mangda dadi binarupa,katon dening wong sabumi; iki pradatanya,away hima hima ring payogan.Sane metu ring sarira gnahnya mider bwana,lwirnya :
Papusuwan ngaran purwa,ika dadi lembu
Peparu dadi singa,kelod kangin
Atine dadi barong,kelod unggwanya
Usus agung dadi warak,kelod kawuh unggwanya
Ungsilane dadi nagha pasa,kawuh unggwanya
Amprune dadi raksasa,kaja unggwanya
Jajaringane dadi garuda kaja kangin unggwanya
Tumpukan papuswane dadi kala mretyu,ring madya unggwanya

Sayangnya, sebagian orang selalu “memojokkan” Randa Dirah sebagai biang kerok Aji Ugig (leak), sementara banyak orang tanpa sadar juga sedang melakukan praktek tapa sejenis seperti yang dilakukan Randa Dirah. Dijaman Kali ini banyak orang mengaku takut terhadap leak meskipun dia sesungguhnya adalah juga pengikut Calon Arang.. Mereka “diam diam” pergi ke pura atau tempat tempat keramat,petilasan,makam “mbah sakti” dan sebagainya, bukan untuk menyembah Hyang (memuja,memuliakan dan bersyukur kehadapan Hyang Widhi) melainkan untuk mendoakan (baca; meminta) agar jabatannya langgeng (baca; orang lain tidak perlu naik pangkat),agar usahanya laris dan maju (baca; agar orang yang melakukan usaha sejenis bangkrut). Jika hal hal semacam itu mereka pikirkan terus menerus sampai tidak bisa tidur,tak ayal lagi mereka adalah pengikut setia Calon Arang alias “leak leak berdasi” (baca : leak matah). Jadi kenapa harus takut dan memojokkan Randa Dirah dan leaknya?
LEAK TETAP EKSIS

Diatas telah saya simpulkan bahwa semasih ada kebencian dan dendam yang perlu dilampiaskan,semasih ada nafsu birahi yang menuntut pemuasan dan semasih ada kemarahan terpendam yang menuntut pembalasan, jika semua itu cukup untuk melahirkan penghancuran,maka apa yang disebut LEAK pasti tetap eksis.
Memang dalam sebuah babad misalnya pernah terungkap sebuah Ajian yang dianugerahkan oleh Ida Peranda Sakti Wau Rawuh kepada sisya sisyanya terbukti sangat ampuh dan berhasil mengalahkan ilmu pengeleakan yang merajalela pada masa itu.Ajian pemunah Ilmu Pengelakan itu popular disebut Gni (Agni) Wairocana.Hanya sekejap saja setelah mantra ajian tersebut dirapal,balatentara pengeleakan berikut panglimanya musnah terbakar hancur lebur menjadi abu.Ajian macam apa sesungguhnya Agni Wairocana itu?
RAHASYA AJIAN AGNI WAIROCANA

Vajra Vairochani (ya) adalah nama lain dari Indrani (Shakti Dewa Indra) yang mengambil bentuk sebagai “tubuh” dari senjata Vajra (Halilintar) milik Dewa Indra. Vajra adalah halilintar; yakni api (agni) kosmik yang sangat dahsyat.Siapapun yang terkena pukulan Vajra ini akan dilumpukan egonya sehingga mengalami “pencerahan seketika”. Sama halnya dengan pengalaman yang menimpa Shri Hanuman,ideal dasyabhakti dalam epos Ramayana. Karena prilaku egoistik (ugig) semasa kecilnya, Putra Vayu yang gagah perkasa itu mendapat hukuman dari Dewa Indra,Penguasa Kahyangan.

Indra melepaskan senjata vajra yang dahsyat itu dan mengenai dagu Hanuman .Hanuman kemudian jatuh dan pingsan (egonya dilumpuhkan). Setelah Hanuman siuman,ia mendapati dirinya telah “tercerahi”(mencapai keinsyafan diri). Untuk sampai kepada hakekat pencerahan itu, banyak usaha yang telah dilakukan Sang Hanuman. Hanuman pada masa itu sedang berguru di Suryaloka. Ini menunjukkan bahwa Ia seorang bhakta yang mendambakan penerangan jiwa (Surya=Pencerahan). Setelah menimba pelajaran di Surya Loka,dengan kekuatan yang diperolehnya Ia sempat menghancurkan kereta perang Dewa Indra.

Ini menunjukkan bahwa Hanuman telah menundukkan “ kereta” yakni badan/tubuh tempat nafsu inderawi melampiaskan hasratnya. Bahkan Hanuman melumpuhkan Gajah Airavata,wahana utama Dewa Indra. Gajah adalah simbol buddhi (asas kebijaksanaan). Lagi lagi peristiwa ini menunjukkan bahwa Hanuman telah menguasai intelegensia, pusat segala pertimbangan untuk membedakan kebaikan dan keburukan (wiweka=buddhiyoga). Setelah penundukan kereta badan dan menguasai wiweka, Hanuman kemudian “menerima” pukulan Vajra Vairochana, the personification of instantaneous enlightment (perwujudan pencerahan seketika). Senjata ini cukup populer di Bali sebagai nama “ilmu” yakni Aghni Wairochana untuk mengalahkan leak sebagaimana tertulis dalam Babad Pasek.

Bertolak dari uraian diatas, sangatlah logis kalau ilmu Agni atau Vajra Wairocana itu dikatakan sangat ampuh untuk memunahkan Leak. Karena Agni Wairocana adalah senjata kesadaran jiwa untuk melumpuhkan ego (pikiran) yang sedang dipenuhi kabut kegelapan hawa nafsu (kebencian,dendam,kemarahan,kesombongan,dsb). Energi yang dipancarkan oleh pikiran yang gelap adalah emosi negatif atau hawa panas yang dapat menghancurkan kehidupan. Hawa panas yang desruktif ini adalah cikal bakal aji pengleakan.Maka jika kabut kegelapan pikiran dan api hawa nafsu itu dilumpuhkan, tak ayal cikal bakal pengleakanpun sirna dari kehidupan manusia.Agni Wairocana adalah ajian penerang jiwa,cahaya kesadaran jiwa yang terbit dari penapakan jalan spiritual keinsyafan diri. Senjata ini hanya dikuasai oleh pribadi pribadi mulia sekaliber Danghyang Nirartha,Mpu Bharadah,Mpu Jiwaya,Mpu Bahula dan segelintir orang suci lainnya. Bagi mereka,kekuatan leak tidak kuasa menyentuhnya. Bagaimana dengan Anda?

Catatan : Artikel ini ditulis oleh Drs.Kadek Yudhiantara,MAP, untuk keperluan penulisan di sebuah media. Pak Kadek adalah Guru Besar Maruti Suta-Bali dan juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Bali.

Hubungi : Yeh Malong Tour
Nyoman Pasek: yehmalong@telkom.net
Ph. 0361.8709363 HP/SMS : 081353 268688

Sewa mobil di Bali bersama......Bali Tours Club

Upacara Ngaben

Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan di Bali, khususnya oleh yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana 15 juta s/d 20 juta rupiah.

Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat “Bade dan Lembu” yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.



Pagi hari ketika upacara ini dilaksanakan, keluarga dan sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara. Mayat akan dibersihkan atau yang biasa disebut “Nyiramin” oleh masyarakat dan keluarga, “Nyiramin” ini dipimpin oleh orang yang dianggap paling tua didalam masyarakat. Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali seperti layaknya orang yang masih hidup. Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” untuk diusung beramai-ramai ke kuburan tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat, di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya.

Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali. Sesampainya di kuburan, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat di “Lembu” yang telah disiapkan diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci.

Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.

Dari berbagai sumber.

Mengenai Saya

Foto saya
Bali Tours Club, travel Agent yang berbasis di Bali, yang meyediakan jasa wisata seperti Tour, Sewa Mobil, Bus dan banyak aktifitas wisata lainnya yang kami sediakan. Pengalaman kami di bidang pariwisata mulai tahun 2005. Staf kami yang sudah berpengalaman dalam industri pariwisata akan memberikan pelayanan yang terbaik bagi anda yang sedang menikmati liburan di Bali. Kami memulai bisnis ini dari usaha kecil-kecilan, mulai kami menyewa sebuah counter di sebuah hotel di kawasan Kuta dengan media brosur dan promosi hanya oleh pelanggan-pelanggan yang pernah menggunakan jasa kami, yang waktu itu kebanyakan wisatawan asing, karena pemasaran kami ofline dan berinteraksi langsung kepelanggan, sehinga media brosur sangatlah efektif, waktu itu kami belum menggunakan media internet untuk memperkenalkan jasa kami. Tapi karena untuk memenuhi permintaan pelanggan dan syukurlah atas bantuan beberapa teman, kami coba mengenalkan jasa yang kami tawarkan melalui dunia maya lewat media online internet. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pelanggan kami yang telah menggunakan jasa kami. Ataupun yang belum, silahkan mencoba pengalamn wisata anda bersami kami Bali Tours Club.